Li Wei menyipitkan matanya, merasa jawaban yang diberikan Xiao Ling terlalu mengada-ada. Tapi sebelum ia bisa membalas, Komandan Jiang berbicara lagi.

"Apa pun itu, saya tetap berterima kasih padamu, Xiao Ling." Ia menatap pemuda itu dengan hormat. "Kau sudah berani menyelamatkan Li Wei. Kota kami berhutang budi padamu."

Lynx hanya tersenyum kecil. "Saya hanya kebetulan lewat," katanya ringan.

Komandan Jiang mengangguk. "Meski begitu, kau tetap berani bertindak. Itu lebih dari cukup."

Li Wei masih mendelik ke arah Lynx, tapi akhirnya hanya mendengus dan menyilangkan tangan. "Hmph! Aku masih tidak suka padamu."

Lynx menahan tawa. Sepertinya Li Wei adalah tipe yang sulit menerima kekalahan, bahkan dalam hal gengsi.

Namun, untuk saat ini, ia memutuskan untuk tetap merendah dan menyembunyikan kekuatannya. Itu lebih baik.

Lynx merasa sudah cukup berkenalan dengan mereka untuk saat ini. "Aku bisa menemui mereka di kota nanti untuk mendapatkan informasi." Lynx memutuskan bahwa lebih baik pergi dan melanjutkan perjalanannya sendiri.

"Baiklah, kalau begitu, kami akan pergi dulu," ujar Lynx santai. "Mungkin kita akan bertemu lagi di Kota Huoling."

Jelita yang berdiri di sampingnya hanya mengangguk, mengikuti keputusan Lynx tanpa banyak bicara.

Namun—

"Tunggu!" Li Wei tiba-tiba melangkah maju dengan ekspresi tidak setuju. "Kenapa kau ingin pergi begitu saja?"

Lynx menatapnya datar. "Aku masih ada urusan lain," jawabnya singkat.

"Tidak, kau harus ikut dengan kami!" kata Li Wei bersikeras.

Lynx mengerutkan alisnya. "Kenapa?"

Li Wei menyilangkan tangan di dadanya. "Kau sudah menyelamatkanku. Kalau aku membiarkanmu pergi begitu saja, aku akan merasa berhutang budi. Jadi, ikut saja dengan kami."

Lynx hanya bisa menatapnya dengan ekspresi bingung.

"Apa yang diinginkan wanita ini. Kenapa aku merasa ragu jika dia ingin aku ikut agar dia bisa membalas Budi?"

Sementara itu, Li Wei mengalihkan perhatiannya ke Jelita. Ia menggenggam tangan gadis itu dengan ceria.

"Kulitmu terasa halus sekali!" seru Li Wei kagum. "Dan kau juga cantik! Dari mana asalmu?"

Jelita sedikit terkejut dengan sikap Li Wei yang tiba-tiba begitu ramah, tetapi ia tetap menjawab dengan tenang, "Aku berasal dari desa kecil di luar kota."

"Wah, kamu sangat beruntung memiliki kulit seindah ini," puji Li Wei dengan antusias. "Tapi, apakah dia sering mengganggumu? Apa hubungan kalian sebenarnya?" tanyanya dengan nada menyelidik.

"Kami... kami hanya teman perjalanan," jawab Jelita, lidahnya terasa berat saat mengucapkan kata-kata itu. Hatinya masih perih, mengingat hubungan mereka sebelumnya sebagai suami istri.

Li Wei, yang merasakan perubahan sikap Jelita, semakin menatap wajahnya dengan intens. "Apakah kamu yakin, Yun Qing? Kamu bisa mengatakannya padaku jika dia mengganggumu."

Jelita mengangguk pelan, dia tidak mungkin mengakui bahwa dialah yang selama ini justru berusaha menganggu Lynx dan berharap Lynx mau menganggapnya sebagai wanita.

"Xiao Ling, Yun Qing kini menjadi temanku. Lihat saja jika kamu berani menyakitinya." Li Wei menatap Lynx dengan sorot mata tajam.

Yun Qing merasa terharu mendapat pembelaan dari Li Wei, dia merasa bahwa Li Wei tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya.

"Yun Qing, aku melihat kamu juga berkultivasi, tapi tingkatanmu masih Forging Qi tingkat satu. Sudah berapa lama kamu belajar?" tanya Li Wei dengan rasa ingin tahu. Seharusnya, kebanyakan kultivator seusia Jelita sudah menguasai minimal Forging Qi tingkat lima, bahkan jika mereka memiliki bakat yang buruk; mereka bisa menggunakan sumber daya lain untuk meningkatkan kekuatan mereka.

Jelita menjawab dengan rasa malu, "Aku baru belajar. Kami berasal dari desa dengan kepadatan Qi yang rendah." Dia teringat penjelasan Lynx saat perjalanan, di mana Lynx menceritakan berbagai hal tentang kultivasi, termasuk desa Lianhua yang terkenal dengan kepadatan Qi-nya yang rendah.

Li Wei mengangguk penuh semangat. "Kalau begitu, kau pasti belum terlalu paham tentang dunia kultivasi, kan?"

Jelita diam, tidak menjawab.

Li Wei tersenyum lebar. "Bagaimana kalau aku membantumu? Apa pun yang ingin kau ketahui tentang kultivasi, tanyakan saja padaku!"

Jelita menatapnya sejenak sebelum tersenyum tipis. "Terima kasih, Nona Li Wei."

"Ah, tidak perlu panggil aku seperti itu. Cukup Li Wei saja!" ujar Li Wei sambil tersenyum cerah.

Lynx menghela napas. "Baiklah, kalau aku ikut, kalian sebenarnya mau ke mana?" tanyanya akhirnya.

Komandan Jiang, yang sejak tadi diam, akhirnya menjawab dengan suara tenang. "Kami sedang mencari tanaman spiritual di dalam Hutan Fengling."

Lynx menatapnya dengan lebih serius. "Tanaman spiritual?"

Li Wei mengangguk. "Benar. Kakakku, Li Mei, sedang sakit. Kami membutuhkan tanaman itu untuk mengobatinya."

Lynx kini mengerti tujuan mereka.

Sebenarnya, selama perjalanan sebelumnya, ia sudah merasakan adanya tanaman spiritual tingkat rendah di dalam hutan ini. Karena tidak membutuhkannya, dia tidak tertarik untuk mencarinya dan ingin fokus ketujuannya menemukan Leena. Namun, Lynx juga merasakan di tanaman tersebut ada satu masalah besar—

Tanaman itu dijaga oleh seekor hewan iblis.

Bukan sembarang hewan iblis, tetapi yang kekuatannya melebihi Komandan Jiang sendiri, Demon Beast Fana.

Karena itu, Komandan Jiang tidak akan bisa mendeteksinya meski mencobanya.

Binatang iblis memiliki tingkatan tersendiri, mulai dari Qi Beast yang setara dengan Forging Qi di manusia, Foundation Beast setara dengan Master Foundation pada manusia, Demon Beast setara dengan Grandmaster, dan Ancient Beast yang setara dengan Immortal. Setiap tingkatan juga memiliki tahap-tahapnya.

Sebagai binatang yang memiliki insting dan bakat alami, binatang iblis memiliki kemampuan lebih tinggi dari manusia dengan tingkatan yang sama.

Lynx berpikir sejenak, lalu akhirnya mengambil keputusan. "Baiklah, aku akan ikut," katanya dengan santai.

"Aku harus membantu mereka hingga tuntas agar tidak sia-sia yang sudah aku lakukan." batin Lynx.

Li Wei tersenyum puas. "Bagus! Paling tidak, kamu punya sedikit rasa tanggung jawab!"

"Bertanggung jawab terhadap apa?" tanya Lynx, sedikit bingung.

"Urusan kita belum selesai, kan?" jawabnya dengan nada mengancam.

Lynx hanya menghela napas, merasa pusing dengan gadis yang satu ini.

Setelah memerintahkan prajuritnya untuk membawa kembali para tawanan anak buah Gao Qian, Komandan Jiang mengajak Lynx, Jelita, dan Li Wei melanjutkan perjalanan, diikuti oleh lima prajurit.

Selama perjalanan, Li Wei terus berdebat dengan Lynx, selalu menyebutnya dengan sebutan "cowok mesum." Namun di balik sikapnya yang keras, Lynx bisa melihat bahwa Li Wei memiliki hati yang baik, terlihat dari cara dia memperlakukan orang-orang di sekitarnya.

Jelita dan Komandan Jiang hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Li Wei yang selalu mengajak Lynx bertengkar.

***

"Komandan Jiang, bagaimana kalian bisa mengetahui keberadaan tanaman ini?" tanya Lynx saat mendaki sebuah bukit.

"Salah seorang tabib menceritakannya ketika mengobati. Mereka mengatakan seorang pengembara pernah melihat jenis tanaman spiritual ini, yang dikenal dengan nama Moon Spirit Herb. Bunga tanaman ini dapat meningkatkan kekuatan kultivator dan juga bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit," jelas Jenderal Jiang.

Mendengar nama tanaman tersebut, Lynx tersenyum. Dia mengenali khasiat tanaman itu dari buku yang dibacanya, serta ditambahkan pengetahuan dari leluhur Xiao Tang. Tanaman spiritual tersebut hanyalah tanaman tingkat rendah, bagi kultivator forging qi kebawah memiliki banyak khasiat, namun untuk level keatasnya, bunga ini tidak terlalu memiliki efek.

Tetapi kebalikan dengan binatang iblis yang memiliki darah panas, bunga dari tanaman ini, dapat meningkatkan kekuatan kultivasi mereka dan menyembuhkan luka dalam yang dimiliki.

"Bukankah tanaman spiritual selalu ada yang menjaganya? Apakah tabib tersebut menceritakan tentang hal itu?" tanya Lynx, penuh curiga.

"Pengetahuan tentang tanaman spiritual ternyata cukup tinggi juga, untuk orang desa sepertimu," Li Wei yang mendengarkan segera berkata, dengan nada yang sulit ditafsirkan—antara pujian atau sindiran.

"Kami tahu bahwa pasti akan ada hewan iblis yang menjaganya dan menunggu tanaman itu berbunga. Namun, kami tidak punya pilihan lain. Kami harus mendapatkannya," kata Komandan Jiang dengan penuh tekad.

"Jika tanaman ini memang sangat berkhasiat bagi para kultivator, kenapa tidak ada kultivator lain yang mengincarnya?" tanya Jelita dengan rasa penasaran yang mendalam.

